Mahasiswa Fast Track MPBI UAD Angkat Pemanfaatan Claude AI dalam Academic Writing pada Seminar Proposal
Yogyakarta – Mahasiswa Program Fast Track Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabrina Attaya Alif (NIM 2542042022), berhasil melaksanakan seminar proposal dengan mengangkat topik penelitian yang relevan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia akademik.
Melalui penelitian berjudul “Exploring Final-Semester EFL Master’s Students Experiences in Using Claude AI for Academic Writing”, Sabrina berupaya mengeksplorasi pengalaman mahasiswa magister Bahasa Inggris sebagai penutur bahasa asing (EFL) dalam memanfaatkan Claude AI sebagai pendukung proses penulisan akademik.
Keputusan Sabrina mengikuti Program Fast Track MPBI UAD berawal dari keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang magister sejak masih menempuh pendidikan sarjana. Saat memasuki semester enam, ia mulai mencari berbagai informasi mengenai studi lanjut dan menemukan Program Fast Track UAD yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister dalam waktu sekitar lima tahun.
“Setelah beberapa pertimbangan dan berdiskusi dengan orang tua, saya memutuskan bergabung di MPBI UAD karena program ini memberikan kesempatan untuk memperoleh dua gelar dalam waktu yang lebih efisien,” ungkap Sabrina.
Topik penelitian yang dipilihnya juga lahir dari pengalaman pribadi selama menyusun karya ilmiah. Sebagai mahasiswa EFL, Sabrina merasakan bahwa academic writing dalam bahasa Inggris memiliki tantangan tersendiri, mulai dari aspek tata bahasa, pemilihan diksi, hingga menjaga koherensi argumentasi. Pengalamannya menggunakan Claude AI sebagai alat bantu menulis kemudian mendorongnya untuk meneliti bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan oleh mahasiswa pascasarjana.
Menurutnya, penelitian mengenai penggunaan AI dalam pendidikan selama ini masih didominasi oleh pembahasan mengenai ChatGPT dan mahasiswa jenjang sarjana. Sementara itu, pengalaman mahasiswa magister dalam menggunakan Claude AI, termasuk tantangan etis seperti potensi hallucinated references, masih belum banyak dikaji.
Dalam proses penyusunan proposal, Sabrina mengaku menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah menyusun kerangka teori yang mampu mengintegrasikan Writing Process Theory dari Flower dan Hayes dengan Sociocultural Theory dari Vygotsky. Kedua teori tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana Claude AI dapat berperan sebagai scaffolding dalam proses penulisan akademik. Selain itu, penyusunan instrumen penelitian juga memerlukan berbagai revisi agar mampu menggambarkan pengalaman partisipan secara mendalam.
Meski menjalani perkuliahan S1 dan S2 secara bersamaan, Sabrina mampu mengelola aktivitas akademiknya dengan menerapkan manajemen waktu yang disiplin. Ia menyusun jadwal mingguan untuk memisahkan tugas-tugas S1 dan S2 serta memanfaatkan waktu luang di sela perkuliahan untuk membaca literatur maupun menyelesaikan tugas-tugas kecil.
Keberhasilan menyelesaikan seminar proposal juga tidak lepas dari dukungan dosen pembimbing dan lingkungan akademik MPBI UAD. Sabrina menilai dosen pembimbing memberikan arahan yang sangat membantu, terutama dalam memperjelas fokus penelitian serta memperkuat metodologi yang digunakan. Selain itu, budaya akademik di MPBI UAD yang terbuka terhadap isu-isu baru membuatnya merasa didukung untuk mengeksplorasi topik mengenai pemanfaatan AI dalam penulisan akademik.
Bagi Sabrina, keunggulan utama Program Fast Track MPBI UAD terletak pada efisiensi waktu tanpa mengurangi kualitas proses pembelajaran. Melalui program ini, mahasiswa dapat menempuh pendidikan sarjana dan magister secara beriringan dengan pendampingan akademik yang tetap optimal sehingga transisi menuju jenjang magister menjadi lebih terarah.
Setelah seminar proposal, Sabrina menargetkan untuk segera memulai proses pengumpulan data dari sepuluh partisipan sesuai desain penelitiannya. Ia berharap dapat menyelesaikan tesis tepat waktu serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur mengenai pemanfaatan AI generatif dalam academic writing pada konteks mahasiswa EFL di jenjang pascasarjana.
Sabrina Attaya Alif, Mahasiswa Fast Track periode 2025 bersama dengan Dr. Ani Susanti S.Pd., M.Pd.BI dan Drs. Bambang Widi Pratolo M.Hum., Ph.D.
“Jangan takut mengambil tantangan menempuh dua jenjang pendidikan sekaligus, selama Anda siap dengan komitmen dan manajemen waktu yang baik. Program Fast Track bukan tentang siapa yang tercepat, tetapi siapa yang paling konsisten.” Ungkap Sabrina
Ia juga membagikan momen yang paling berkesan selama mengikuti Program Fast Track, yaitu ketika berhasil mengembangkan ide penelitian yang menggabungkan ketertarikannya pada teknologi AI dengan bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Dukungan dosen pembimbing dalam mengembangkan topik yang masih tergolong baru tersebut menjadi pengalaman berharga yang semakin memotivasinya untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas.





